Tips Performa

Manfaat Buah Cherry

Simak manfaat kesehatan lain dari buah cherry selengkapnya seperti yang dilansir dari Medical Daily...

Tips Mesin

Taman Bunga Terindah Di Dunia 2014

Hari ini, taman nasional tertua yang terletak di ibukota Amerika ini dikunjuni 1 juta orang setiap tahun nya. ...

Tips Kelistrikan

Gedung Tertinggi Di Asia Tenggara Tahun 2014

Bisa Dibayangkan Indonesia juga Bisa menciptakan Tower tertinggi didunia,...

Tips Kaki-kaki

10 Misteri Menyeramkan Di Dunia

Sebuah misteri yang diyakini masyarakat, tentang keberadaan hal- hal misterius yang sangat menyeramkan....

Otomotif Kitau

Jumat, 29 November 2013

Penyebab dan Cara Pengobatan Cacing Clonorchis sinensis

Informasikita- Hello soabat semua, kembali lagi saya memposting materi ilmu Kesehatan yang berkenaan dengan masalah cacing Clonorchis sinensis yang sangat berbahaya untuk kesehatan manusia dan hewan pada umumnya,, ok langsung saja ya.......
 
●    Nama Latin     : Opisthorchis sinensis (Clonorchis sinensis)
●    Phylum          : Platyhelminthes
●    Sub Phylum    : -
●    Kelas            : Trematoda
●    Ordo             : Digenea
●    Family           : Opisthorchidae
●    Genus           : Clonorchis
●    Species         : Opisthorchis sinensis (Clonorchis sinensis)
●    Nama Daerah  : Cacing pipih
 
 
A. Cara penyebaran
        Terdapat di orient, tetapi tidak terdapat di Western Hemisphere. Reservoir/sumber     Siput merupakan pejamu perantara yang pertama. Sekitar 40 spesies ikan sungai    berperan sebagai pejamu perantara sekunder. Manusia, anjing, kucing dan banyak     spesies mamalia pemakan-ikan yang lain merupakan pejamu akhir.

B. Reproduksi

        Organ reproduksi trematoda komplex dan daur hidup biasanya melibatkan beberapa     tuan rumah yang berbeda, yang berakibat dalam penambahan kekuatan dari reproduksi.     Reproduksi dari sebagian besar keturunan diperlukan dalam hewan parasit kerena     kesempatan suatu individual akan mencapai tuan rumah baru agak enteng. Sebagian     besar trematoda hermaphrodit. Telur dari satu cacing mungkin dibuahi oleh spermatozoa     dari cacing yang sama, dengan fertilisasi silang dapat terjadi. Larva yang ditetaskan dari     telur trematoda ectoparasitic adalah berupa cilia dan berenang kira-kira sampai mereka     melekatkan diri ke tuan rumah yang baru. Trematoda endoparasitic biasanya terlewati     melalui daur hidup terkomplikasi seperti pada cacing hati.

C. Klonorkiasis
        Opisthorchis sinensis (Clonorchis sinensis) adalah cacing hati pada manusia, dan juga     terdapat pada kucing dan anjing, sebagai tuan rumah yang berfungsi seperti gudang. Hal     ini dipilih seperti contoh tipe untuk trematoda karena struktur kurang spesial dari pada     Fasciola hepatica, cacing pipih pada hati sapi . O. sinensis dewasa hidup di pembuluh    empedu pada manusia dan menyebabkan infeksi yang dapat menyebabkan kematian.

        Klonorkiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing Clonorchis sinensis yang     juga dikenal dengan nama cacing hati oriental atau Cina merupakan Agens etiologi     Cacing/Helminthes (trematoda/cacing pipih): Karakteristik agens Clonorchis sinensis     adalah pada cacing dewasa hidup di saluran empedu, kadang-kadang juga ditemukan di     saluran pancreas. Ukuran cacing dewasa 10 - 25 mm x 3 - 5 mm, bentuknya pipih,     lonjong, menyerupai daun. Telur berukuran kira-kira 30 – 16 mikron, bentuknya seperti     bola lampu pijar dan berisi mirasidium, ditemukan dalam saluran empedu.. Warnanya     kuning kecokelatan yang mungkin disebabkan oleh warna empedu dan memiliki sebuah     organ pengisap oral dan sebuah pengisap ventral. Cacing ini bersifat hermafrodit. Telurnya     berukuran 20―30 μm x 15―17 μm; telur tersebut memiliki operkulum dan ukurannya     paling kecil di antara telur trematoda lain yang hidup dalam tubuh manusia.
        Gejala penderita cacing hati Clonorchis sinensi tidak nyata, kebanyakan terjadi secara     kronis, setelah terinfeksi baru perlahan lahan muncul gejala seperti hilang selera makan,     lemas, kurang enak di bagian atas perut, diare, kembung, pencernaan kurang baik, sakit di     bagian atas kanan perut dan hati membengkak. Bila jumlah parasit sangat banyak akan     menyumbat saluran empedu, radang empedu, atau penyakit kuning. Juga ada yang     terinfeksi lama sehingga berubah 3 menjadi batu empedu, bahkan hati mengeras     hepatis kanker.

D. Mata rantai infeksi
        Cara penularan dan Manusia terinfeksi karena memakan ikan air-tawar contoh     makanan yang mentah atau kurang matang yang mengandung terlibat dalam KLB larva     berbentuk kista (metaserkaria). Pada saat dicerna, larva cacing akan terbebas dari dalam     kista dan bermigrasi melalui duktus koledokus ke dalam percabangan empedu. Telur yang     terletak dalam saluran empedu diekskresikan ke dalam tinja. Telur dalam tinja     mengandung mirasidium yang sudah berkembang lengkap. Kalau telur ini dimakan oleh     siput yang rentan, telur akan menetas dalam usus siput, menembus jaringan tubuhnya dan     secara aseksual menghasilkan larva (serkaria) yang bermigrasi ke dalam air. Jika     mengenai pejamu perantara yang kedua, serkaria akan menembus tubuh pejamu dan     membentuk kista, biasanya dalam otot dan terkadang di bawah sisik. Siklus hidup cacing     klonorkis yang lengkap mulai dari siput, ikan sampai manusia memerlukan waktu     sedikitnya 3 bulan.
        Ikan yang mengandung metaserkaria akan termakan oleh manusia jika ikan tersebut     tidak dimasak dengan matang. Metaserkaria dalam bentuk kista masuk ke dalam sistem     pencernaan, kemudian berpindah ke hati melalui saluran empedu dan tumbuh menjadi     cacing dewasa.
        Masa inkubasi Tidak bisa diperkirakan; masa inkubasi bervariasi menurut jumlah     cacing yang ada. Gejala dimulai dengan masuknya cacing yang imatur ke dalam sistem     empedu dalam waktu satu bulan sesudah larva yang berbentuk kista (metaserkaria)     termakan oleh pasien. Gejala Gejala gangguan rasa nyaman pada abdomen kuadran     kanan atas dengan awitan yang bertahap, anoreksia, gangguan pencernaan, nyeri atau     distensi abdomen dan buang air besar yang tidak teratur.
        Pasien yang menderita infeksi berat akan mengalami perasaan lemah, penurunan     berat badan, gangguan rasa nyaman di daerah epigastrium, perasaan penuh dalam     abdomen, diare, anemia dan edema. Dalam stadium lanjut akan terjadi ikterus, hipertensi     porta, ascites dan perdarahan gastrointestinal atas.
        Gejala sisa Hati (terutama lobus kiri) akan membesar. Limpa dapat teraba hanya pada     sebagian kecil kasus klonorkiasis. Kolangitis piogenik yang rekuren merupakan komplikasi     serius klonorkiasis. Pankreas dapat turut terkena pada kasus infeksi C. sinensis yang     berat. Patologi klonorkiasis pankreas serupa dengan patologi pada lesi hepar, yaitu     terjadinya hiperplasia adenomatosa epitelium duktus. Kalau terjadi pankreatitis akut,     gambaran inflamasi akan terlihat. Kolangiokarsinoma juga berkaitan dengan klonorkiasis.     Infeksi berat yang berulang-ulang selama usia kanak-kanak pernah dilaporkan    menyebabkan dwarfisme disertai retardasi perkembangan seksual.

E. Pengobatan
  • Cara Diagnosis : Melalui mikroskop memeriksa sample tinja apakah ada telur cacing parasit, okista protozoa dan takizoit.
     Klonoisiasis oleh Clonorchis sinensis dewasa, diketemukan dalam tinja penderita, dapat I    nfasi dalam saluran empedu, sehingga penderita menerita sakit dihatinya disertai ikterus.     Bentuk dewasa dan telurnya dapat di ketemukan dalam tinja.

    Catatan : Cara pengobatan pelbagai penyakit parasit usus berbeda, harus
    memakai obat cacing menurut resep dokter.
F. Pencegahan Penyakit Klonorkiasis
        Pencegahan penularan cacing chlonorsis sinensis pada manusia dapat dilakukan     dengan cara memutus rantai hidup cacing ini, meliputi :

1.    Tindakan pengendalian Industri: pembuangan ekskreta dan air limbah/khusus kotor yang aman untuk mencegah kontaminasi pada air sungai; pengolahan air limbah untuk keperluan akuakultur; iradiasi ikan air tawar; pembekuan dingin; perlakuan panas, misalnya pengalengan.
2.    Tempat pengelolaan makanan/rumah tangga: memasak ikan air tawar sampai benar-benar matang. Konsumen harus menghindari konsumsi ikan air tawar yang mentah atau kurang matang.
Lain-lain: pengendalian siput dengan moluskisida jika memungkinkan; pengobatan pada masyarakat yang terinfeksi untuk mengurangi reservoir infeksi; pemberantasan anjing dan kucing liar.

G. Peran Keluarga dalam Usaha Pencegahan Penyakit Klonorsiasis
        Keluarga adaah sebagai sumber utama pola perilaku sehat. Peran keluarga dalam     berbagai perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, seperti aktivitas fisik, pola-pola     nutrisi, dan penggunaan substansi, dimana masing-masing perilaku tersebut memiliki     hubungan yang kuat dengan perkembangan dan pemeliharaan penyakit. Perilaku sehat     diperoleh dengan membentuk suatu sistem sosial dimana masing-masing anggota     keluarga membentuk suatu ikatan bersama, mencapai suatu tujuan (keadaan tubuh yang     sehat), dan mengelola keseimbangan (mempertahankan kondisi yang sehat).

        Peran keluarga adalah sebagai motivator, educator dan fasilitator. Berbagai usaha     harus dilakukan oleh keluarga untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit     klonorkiasis. Hal ini juga menunjukkan bahwa keluarga harus aktif dalam usaha     mengetahui lebih banyak dan sebisa mungkin menghindari faktor-faktor yang dapat     menyebabkan penyakit klonorkiasis ini. Misalnya saja seorang ibu yang kebanyakan diberi     tanggung jawab untuk memasak, jangan sampai memasak ikan dengan tidak sempurna     atau tidak matang.

        Terkait dengan peran keluarga ini, orang tua dapat membantu membangkitkan     kesadaran anaknya melalui pemberian penjelasan kepada anaknya mengenai berbagai     hal yang tepat mengenai penyakit ini bila orang tua mengetahui. Usaha untuk memberikan     pengetahuan ini juga dapat memancing orang tua untuk mencari tahu lebih banyak lagi     agar mereka dapat memberikan informasi yang memadai dan tepat kepada anak.     Misalnya memantau dan membimbing anak atau anggota keluarga lain agar ketika     membeli makanan di luar, misalnya ikan, haruslah berhati-hati pastikan ikan benar-benar     telah dimasak sempurna atau matang. Jadi peran keluarga dalam menghindari penyakit ini     merupakan suatu bagian yang cukup penting.

H. Pencegahan 
1.    Tidak makan makanan mentah (sayuran,daging babi, daging sapi dan daging ikan), buah dan melon dikonsumsi setelah dicuci bersih dengan air.
Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman.
Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan menjelang makan atau sesudah buang air besar.
      Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak mencemari sumber air.
Di Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar harus secara rutin diadakan pemeriksaan parasit, sedini mungkin menemukan anak yang terinfeksi parasit dan mengobatinya dengan obat cacing.
Bila muncul serupa gejala infeksi parasit usus, segera periksa dan berobat ke rumah sakit .

2.    Meski kebanyakan penderita parasit usus ringan tidak ada gejala sama sekali, tetapi mereka tetap bisa menularkannya kepada orang lain, dan telur cacing akan secara sporadik keluar dari tubuh bersama tinja, hanya diperiksa sekali mungkin tidak ketahuan, maka sebaiknya secara teratur memeriksa dan mengobatinya.

Demikianlah Artikel Penyebab dan Cara Pengobatan Cacing Clonorchis sinensis, betapa berbahayanya penyebaran cacing ini terhadap pertumbuah tulang kita. baca juaga artikel Cara Menguji Protein Didalam Urine.
Selengkapnya

Rabu, 27 November 2013

Cara Menguji Protein Didalam Urine

Informasikita- Ternyata didalam urine terdapat protein juga ea, untuk memastikan kandunyanya tersebut maka kita harus melakukan uji protein didalam urinenya.


TUJUAN

Untuk mengetahui adanya protein didalam urin
DASAR
Protein adalah sumber asam amino yang mengandung unsur C,H,O dan N . Protein sangat penting sebagai sumber asam amino yang digunakan untuk memnbangun struktur tubuh. Selain itu protein juga bisa digunakan sebagai sumber energi bila terjadi defisiensi energi dari karbohidrat dan/atau lemak. Sifat-sifat protein beraneka ragam, dituangkan dalam berbagai sifatnya saat bereaksi dengan air, beberapa reagen dengan pemanasan serta beberapa perlakuan lainnya.
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi.
Biasanya, hanya sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang diserap oleh tubulus ginjal dan diekskresikan ke dalam urin. Normal ekskresi protein biasanya tidak melebihi 150 mg/24 jam atau 10 mg/dl urin. Lebih dari 10 mg/dl didefinisikan sebagai proteinuria. Adanya protein dalam urine disebut proteinuria.
Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan proteinuria adalah : penyakit ginjal (glomerulonefritis, nefropati karena diabetes, pielonefritis, nefrosis lipoid), demam, hipertensi, multiple myeloma, keracunan kehamilan (pre-eklampsia, eklampsia), infeksi saluran kemih (urinary tract infection). Proteinuria juga dapat dijumpai pada orang sehat setelah kerja jasmani, urine yang pekat atau stress karena emosi.
Untuk mengetahui adanya protein di dalam urin dilakukan pemeriksaan. Prinsip dari pemeriksaan ini terjadi endapan urine jika direaksikan dengan asam sulfosalisila.

ALAT DAN BAHAN
Alat :
1.     1 Tabung reaksi
2.     Penjepit tabung reaksi
3.     Rak tabung
4.     Pipet tetes
5.     Corong
6.     Pipet volume
7.     Lampu spiritus/ bunsen
8.     Beker glass
Bahan :
1.     Asam Asetat 6%
2.     Urin patologis
CARA KERJA
1.     Isi urine normal pada tabung 1 dan urin patologis pada tabung 2 hingga dua per tiga tabung
2.     Kedua tabung di miringkan, panaskan bagian atas urin  sampai mendidih
3.     Perhatikan apakah terjadi kekeruhan dibagian atas urin tersebut dengan cara membandingkan dengan urin bagian bawah.
4.     Jika urine dalam tabung tidak terjadi kekeruahn  maka hasilnya negatif
5.      jika urin dalam dalam tabung terjadi kekeruhan  maka tambahkan asam asetat 6% sebanyak 3-5 tetes.
6.     Panaskan lagi sampai mendidih, Jika urine kembali bening/kekeruahn menghilang maka hasilnya negatif. Jika kekeruahn urin tetap ada maka hasilnya positif.
7.     Beri penilaian terhadap hasil pemeriksaan tersebut
Cara menilai hasil :

    • ·         Negatif              : tidak ada kekeruhan
    • ·         Positif +            : kekeruhan ringan tanpa butiran (0,01-0,05% protein)
    • ·         Positif ++          : kekeruhan mudah dilihat dan dengan butiran (0,05-0,2% protein)
    • ·         Positif +++        : Urin jelas keruh dan kekeruhan dengan kepingan (0,2-0,5 % protein)
    • ·         Positif ++++      : Urin sangat keruh dan kekeruhan dengan gumpalan ( > dari 0,5 % )
Demikian Artikel ini. semoga bermanfaat
Selengkapnya

Kamis, 13 Juni 2013

Tes Hormon Progesteron Mampu Tentukan Risiko Keguguran

Informasikita- Selamat pagi sob, semoga hari ini menjadi hari yang lebih baik dari hari" sebelumnya, hari ini saya mau berbagi artikel Kesehatan buat ibu hamil, Tahukah Anda bahwa Tes hormon progesteron mampu tentukan risiko keguguran , nah kalo masih binggung silahkan lanjutkan membaca, semoga bisa menambah pengetahuan kita tentang kesehatan ibu hamil, 




Tes hormon progesteron tersebut paling akurat dilakukan dengan menggunakan USG. Hal itu dilaporkan para peneliti dari University of Birmingham di Inggris dalam British Medical Journal. Tentu saja, percobaan selanjutnya harus tetap diawasi untuk mengetahui pemicu lain dari keguguran yang dialami ibu hamil.

Selama ini, sebanyak satu dari tiga wanita hamil kerap mengalami nyeri abdomen dan pendarahan di vagina pada trimester kehamilan. Tes USG pun dilakukan apakah kehamilan tersebut bisa bertahan atau tidak. Sayangnya 30 persen dari kasus selalu menghasilkan kesimpulan yang tidak jelas.

Progesteron sendiri sebenarnya adalah hormon wanita yang meningkatkan konsentrasi saat wanita hamil. Sebelumnya memang telah ada penelitian yang menyebutkan pemeriksaan progesteron di awal kehamilan bisa menentukan risiko keguguran. Namun hasil dari studi tersebut cukup bertentangan.

Akhirnya, para peneliti yang sekarang menganalisis 26 hasil studi yang sudah ada yang melibatkan 9.436 wanita hamil. Masa kehamilan mereka kurang dari 14 minggu dan menderita nyeri abdomen atau pendarahan vagina. Kemudian sebanyak 2.300 wanita menerima hasil tes USG yang tidak jelas, sementara sisanya tidak melakukan pemeriksaan sama sekali.

Di antara wanita yang melakukan tes USG, sebesar 73 persen dari mereka berisiko mengalami keguguran. Tetapi di antara wanita yang kadar progesteron mereka sangat rendah (3-6 nanogram per mililiter), risiko keguguran lebih tinggi dan mencapai angka 99 persen.

Peneliti juga mencatat kalau tes progesteron sayangnya tidak bisa membedakan wanita yang mengalami kehamilan di luar rahim yang berisiko mengalami keguguran dengan mereka yang pernah keguguran atau kehamilan yang normal.

Demikian Artikel ini semoga bisa bermanfaat dan menjadi bahan pertimbangan untuk keluarga anda dalam memeriksakan hormon. semoga bermanfaat
sumber : http://www.merdeka.com/sehat/tes-hormon-progesteron-mampu-tentukan-risiko-keguguran.html
Selengkapnya

Senin, 08 Oktober 2012

Pengertian Asam dan Basa

Informasikita- Banyak sekali artikel website yang sudah memuat artikel ini, tapi saya juga pantang menyerah demi berbagi sama sobat semua saya posting tentang Pengertian Asam dan Basa, silahkan lanjutkan membaca,


A. Asam
Asam itu asal ya dari bahasa latin, yaitu denfan ktaacidus yang artinya masam. Asam menurut Arrhenius adalah senyawa yang menghasilkan ion hidrogen ketika larut dalam pelarut air. Kekuatan asam ditentukan oleh banyak-sedikitnya ion hidrogen yang dihasilkan. Semakin banyak ion H+ yang dihasilkan, semakin kuat sifat asamnya.

No    Nama asam        Terdapat dalam

1.    Asam asetat        Larutan cuka
2.    Asam askorbat        Jeruk,tomat,sayuran
3.     Asam sitrat        Jeruk
4.     Asam tanat        Teh
5.     Asam karbonat        Minuman berkarbonasi
6.     Asam klorida        Lambung
7.     Asam nitrat        Pupuk,peledak (TNT)
8.    Asam laktat        Susu yang difermentasikan
9.     Asam sulfat        Baterai mobil,pupuk
10.    Asam benzoat        bahan pengawet makanan

1. Sifat asam
Suatu zat dapat dikatakan asam apabila zat tersebut memiliki sifat-sifat sebagai berikut.

  1. Memiliki rasa asam/masam/kecut jika dikecap.
  2. Menghasilkan ion H+ jika dilarutkan dalam air.
  3. Memiliki pH kurang dari 7 (pH < 7).
  4. Bersifat korosif, artinya dapat menyebabkan karat pada logam.
  5. Jika diuji dengan kertas lakmus, mengakibatkan perubahan warna sebagai berikut : 

    • Lakmus biru -> berubah menjadi warna merah.
    • Lakmus merah -> tetap berwarna merah.
     6.  Menghantarkan arus listrik.
     7. Bereaksi dengan logam menghasilkan gas hidrogen.

2. Pengelompokan asam
Berdasarkan kekuatannya, asam itu terbagi menjadi dua kelompok, yaitu:

  1. Asam kuat, yaitu asam yang banyak menghasilkan ion yang ada dalam larutannya (asam yang terionisasi sempurna dalam larutannya).
  2. Asam lemah, adalah asam yang sedikit menghasilkan ion yang ada dalam larutannya (hanya terionisasi sebagian).
Asam juga berguna dalam kehidupan sehari-hari kita lho, contohnya    adalah sebagai berikut :

  • Proses dalam pembuatan pupuk
  • Proses dalam Pembuatan obat-obatan
  • Pembersih permukaan logam
  • Proses pembuatan Bahan peledak
  • Proses pembuatan Pengawet makanan
3. Basa
Basa kalu menurut Arrhenius ialah senyawa yang terlarut dalam air yang sudah menghasilkan ion hidroksida (OH). Semakin banyaknya jumlah ion OH yang dihasilkan, maka semakin kuat lah sifat basanya. Basa juga dapat menetralisasikan  asam (H+) dan menghasilkan air (H20).

Inilah Beberapa basa yang sudah dikenal oleh manusia yang dapat dilihat pada tabel berikut :

No      Nama asam                                   Terdapat dalam
1.       Aluminium hidroksida               Deodoran dan antasida
2.       Kalsium hidroksida                  Mortar dan plester
3.       Magnesium hidroksida         Obat urus-urus dan antasida
4.       Natrium hidroksida                           Bahan sabun

4. Karakteristik basa
Suatu zat dapat dikatakan basa jika zat tersebut punya sifat sebagai berikut.

  1. Rasanya itu Pahit dan terasa licin pada kulit.
  2. Apabila dilarutkan dalam air zat tersebut akan akan menghasilkan ion OH”.
  3. Memiliki pH di atas 7 (pH > 7).
  4. Bersifat elektrolit.
  5. Menetralkan sifat asam.
  6. Jika diuji menggunakan kertas lakmus akan memberikan hasil sebagai berikut.
    • Lakmus merah -> berubah warnanya menjadi biru.
    • Lakmus biru -> tetap berwarna biru
5. Pengelompokan basa
Berdasarkan kemampuan melepaskan ion OH”, basa dapat terbagi menjadi 2 yaitu :
  1. Basa kuat, yaitu basa yang bisa menghasilkan ion OH dalam jumlah yang besar. Basa kuat biasanya disebut dengan istilah kausatik. Contohnya kayak Natrium hidroksida, Kalium hidroksida, dan Kalsium hidroksida.
  2. Sedangkan Basa lemah, yaitu basa yang bisa menghasilkan ion OH” dalam jumlah kecil.Contohnya kayak ammonia.
6. Penggunaan basa dalam suatu kehidupan sehari-hari

  1. Bahan dalam pembuatan semen.
  2. Pembuatan deterjen/sabun.
  3. Baking soda dalam pembuatan kue
Demikian artikel  Pengertian Asam dan Basa, Tahukah Anda..?? Tes hormon progesteron mampu tentukan risiko keguguran dan Cara Pemeriksaan Enzim Cholinesterase semoga bermanfaat.
Selengkapnya

Sabtu, 06 Oktober 2012

Cara Pemeriksaan Rumple Leed tes

http://teknologi-profesional.blogspot.com/
InformasiKita- Rumple leed test adalah salah satu cara yang paling mudah dan cepat untuk menentukan apakah terkena demam berdarah atau tidak. Rumple leed adalah pemeriksaan bidang hematologi  dengan  melakukan pembendungan pada bagian lengan atas selama 10 menit untuk uji diagnostik kerapuhan vaskuler dan fungsi trombosit. Prosedur pemeriksaan Rumple leed tes yaitu :


1. Pasang ikatan sfigmomanometer pada lengan atas dan pump sampai tekanan 100 mmHg (jika tekanan sistolik pesakit < 100 mmHg, pump sampai tekanan ditengah-tengah nilai sistolik dan diastolik).

2.  Biarkan tekanan itu selama 10 minit (jika test ini dilakukan sebagai lanjutan dari test IVY, 5 minit sudah mencukupi).
3.  Lepas ikatan dan tunggu sampai tanda-tanda statis darah hilang kembali. Statis darah telah berhenti jika warna kulit pada lengan yang telah diberi tekanan tadi kembali lagi seperti warna kulit sebelum diikat atau menyerupai warna kulit pada lengan yang satu lagi (yang tidak diikat).
4.  Cari dan hitung jumlah petechiae yang timbul dalam lingkaran bergaris tengah 5 cm kira-kira 4 cm distal dari fossa cubiti.
Catatan:

Jika ada > 10 petechiae dalam lingkaran bergaris tengah 5 cm kira-kira 4 cm distal dari fossa cubiti test Rumple Leede dikatakan positif. Seandainya dalam lingkaran tersebut tidak ada petechiae, tetapi terdapat petechiae pada distal yang lebih jauh daripada itu, test Rumple Leede juga dikatakan positif  . Semoga Bermanfaat.
Selengkapnya

Rabu, 03 Oktober 2012

Pengenalan Dan Penerapan Peralatan Analisis




Dasar Teori
           Menggunakan alat dengan betul merupakan syarat untuk memperoleh hasil-hasil yang betul pada analisis kuantitatif . Cara penggunaan yang benar ini ditanamkan pada diri dari permulaan, bagi percobaan-percobaan selanjutnya.
Dalam praktikum ini kita akan belajar mengenal dan menggunakan alat:

1.Pipet
2. Labu takar
3. Buret

Praktikum melatih kita untuk:
1. memilih alat yang benar bagi tujuan tertentu
2. memeriksa alatnya apa bekerja dengan baik
3. membersihkan alatnya
4. mempersiapkan alatnya untuk reagen tertentu
5. menggunakan alatnya.

Alat dan Bahan
A. Alat:
- labu takar 250 mL : 2 buah
- Erlenmeyer 250 mL : 2 buah
- Gelas piala 250 mL : 2 buah
- Batang pengaduk : 1 buah
- Pipet 25 mL : 1 buah
- Pipet 20 mL : 1 buah
- Sikat tabung : 1 buah
- Botol semprot : 1 Buah
- Corong biasa : 1 buah
- Etiket-etiket
- Kertas saring
- Kertas atau lap
- Standar dan buret
B. Bahan:
- Larutan detergen
- 250 mL reagen A
- 100 mL HCl 0,1 N
- 100 mL NaOH 0,1 N

 Prosedur Kerja
            Sebelum kita mengenal alat serta tehnik penggunaan alat, maka alat-alat yang akan kita pakai terlebih dahulu dibersihkan. Membersihkan alat-alat yang kan dipakai itu adalah untuk mengukur volume larutan dengan tepat. Larutan sama sekali tidak boleh dikotorkan dengan zat yang berasal dari alat yang kurang bersih.
Tehnik membersihkan alat sebagai berikut:'

1. Cuci alat yang digunakan dengan air kran dingin sampai bersih
2. Bilas alat sekali lagi dengan menggunakan air suling. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan zat-zat yang terlarut dalam air kran
3. Periksa apakah pada dinding alat tersebut masih menempel tetesan-tetesan air. Bila ada maka:

a. Cuci alat dengan menggunakan larutan detergen dengan air kran dingin
b. Hilangkan dtergen dengan air kran dingin
c. Hilangkan air kran dengan menggunkan air suling.

Catatan:
- Adanya tetesan air pada dinding alat/tabung menunjukkan adanya lemak pada tempat sabun tersebut.
- Jangan sekali-kali mencuci alat dengan air panas ataupun mengeringkannya dengan tanur pengering yang panas. Hal ini akan mengembangkan alat volumetrinya sehingga volume bertambah.
Setelah alat-alat tersebut selesai dicuci dan dikeringkan maka alat-alat itu siap untuk dipakai.

Yang harus dilakukan dalam praktikum ini adalah:
a. Bagaimana menentukan batas garis kalibrasi ?
b. Gambarkan bentuk-bentuk alat, cara penggunaan serta tujuan digunakan alat tersebut, meliputi:
a. Pipet
b. Buret
c. Labu takar

Alat-alat kimia lainnya ,seperti:
- Gelas kimia
- Tabung reaksi
- Kaki tiga dan kasa asbes
- Corong gelas
- Labu erlenmeyer
- Pinggan porselin
- Pipet tetes
- Kaca arloji
- Gelas piala

Pembahasan dan Hasil Pengamatan
A. Cara Penentuan Garis Kalibrasi
Garis batas adalag garis yang teratur pada leher labu takar yang menunjukkan batas permukaan cairan untuk mendapatkan volume cairan tertentu. Untuk mendapatkan pengukuran cermat, dasar maniskus cairan harus menyentuh batas garis ini bila dikaca pada ketinggian mata.
Pipet dibuat dengan perhitungan: Volume yang dimaksud tercapai bila dasar maniskus cairan tepat menyentuh garis batas.
Labu takar dibuat dengan perhitungan volume: volume yang dimaksud tercapai bila dasar maniskus cairan tepat menyentuh garis batas.

B. Penggunaan Pipet
- Pada waktu menyedot larutan dari gelas piala, ibu jari menekan tanda S pada pipet. Keluarkan pipet dari gelas piala. Pegang pipet tegak lurus di atas gelas piala untuk mengembalikan kelebihan larutan dalam pipet gelas piala. Dengan memutar pipetnya, biarkan larutannya perlahan-lahan menetets keluar sampai maniskusnya, dipandang pada ketinggian mata kita tepat menyentuh garis batas kalibrasi.
- Pindahkan pipet ke dalam labu titrasi (erlenmeyer) dengan ujung menyentuh labu titrasi yang dimiringkan. Tekan tanda E pada pipet dengan ibu jari, biarkan cairan keluar. Bila cairan sudah mencapai ujung lancip, lalu tunggu sampai 15 detik.

C. Penggunaan Buret
- Tuangkan larutan melalui corong ke dalam buret. Buka kran sebentar untuk mengisi lubang ujung lancip dan menghilangkan gelembung-gelembung udarayang mungkin ada di dalamnya. Ketok perlahan-lahan ujung lancip untuk menghilangkan gelembung-gelembung udara yang mungkin ada. Turunkan maniskus sampai garis yang terdekat.
- Lepaskan tetesan pada ujung lancip dengan menyentuh pada dinding gelas piala. Tangan kiri memegang kran dan tangan kanan memegang botol titrasi sambil menggoyang-goyangkannya.

D. Penggunaan Labu Takar
- Masukkan zat yang akan diencerkan ke dalam labu takar. Gunakan batang pengaduk yanmg bersih, untuk menuangkan air suling ke dalam labu, isi sampai tubuh labu penuh.
- Gunakan sekarang pipet tetes atau botol semprot
- Untuk menambahkan air suling setetes demi setetes sampai maniskus larutan tepat menyentuh garis, bila dipandang pada ketinggian mata.

E. Alat-alat Kimia
1. Gelas kimia untuk mengukur volume zat cair
2. Tabung reaksi , untuk malekukan percobaan reaksi kimia dalam bentuk larutan.
3. Kaki tiga sebagai tungku
4. Kasa asbes digunkan sebagai alas pada pemanasan alat-alat gelas.
5. Corong gelas digunkan sebagai corong jika memindahkan cairan yang cukup banyak
6. Labu erlenmeyer untuk menampung hasil penyulingan, memanaskan cairan dan lain-lain
7. Pinggan porselin untuk menguapkan larutan atau mengeringkan zat padat yang bas.
8. Pipet tetes untuk memindahkan beberapa tetes zat cair.
9. Bahan kegiatan praktikum atau bahan-bahan yang perlu diamati
10. Gelas kimia untuk wadah zat cair, membuat larutan-larutan.
Selengkapnya
 
Twitter Facebook Feedburner Google +1 youtube flickr
© Copyright 2012 Informasi Teknologi, Sejarah, Alam Wisata, Kesehatan Template Modify by INFORMASI KITA | Powered by Blogger.com.