Tips Performa

Manfaat Buah Cherry

Simak manfaat kesehatan lain dari buah cherry selengkapnya seperti yang dilansir dari Medical Daily...

Tips Mesin

Taman Bunga Terindah Di Dunia 2014

Hari ini, taman nasional tertua yang terletak di ibukota Amerika ini dikunjuni 1 juta orang setiap tahun nya. ...

Tips Kelistrikan

Gedung Tertinggi Di Asia Tenggara Tahun 2014

Bisa Dibayangkan Indonesia juga Bisa menciptakan Tower tertinggi didunia,...

Tips Kaki-kaki

10 Misteri Menyeramkan Di Dunia

Sebuah misteri yang diyakini masyarakat, tentang keberadaan hal- hal misterius yang sangat menyeramkan....

Otomotif Kitau

Jumat, 06 Desember 2013

Hipolikemia Atau Penyakit Gula Darah Rendah

Informasikita- Didunia ini memang banyak hal yang mesti kita pelajari dan kita pahami, baik yang kita lakukan maupun yang tidak kita lakukan, karena semua itu pasti akan bermanfaat bagi diri kita dan juga bagi orang lain. seperti halnya yang satu ini Hipolikemia atau penyakit gula darah rendah. simak artikelnya berikut ini :

Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah hingga dibawah 60 mg/dl. Dalam keadaan normal, tubuh mempertahankan kadar gula darah antara 70-110 mg/dL. Sementara pada penderita diabetes (diabetes memiliki beberapa type, jadi silahkan merujuk kepada jenis diabetes yang ada), kadar gula darahnya tersebut berada pada tingkat terlalu tinggi (Hiperglikemia) dan pada penderita hipoglikemia, kadar gula darahnya berada pada tingkat terlalu rendah.

Hipoglikemia bisa disebabkan karena banyak faktor, antara lain adalah  :
  1. Kelebihan suntikan insulin yang diberikan
  2. Kurangnya pasokan glukosa
  3. Efek dari obat yang diberikan pada pengguna diabetes
  4. Minum alkohol
  5. Pola hidup yang tidak baik

Dalam mekanisme pengaturan kadar glukosa darah, ada beberapa hormon yang berperan, yaitu  :
  1. Glukagon : hormon ini berguna untuk meningkatkan kadar glukosa darah
  2. Insulin : insulin digunakan untuk menurunkan kadar glukosa darah. Pemberian insulin yang berlebihan dan tidak dikontrol, maka akan menyebabkan hipoglikemia
  3. Epineprin : hormon adrenalin yang satu ini adalah berfungsi untuk meningkatkan metabolisme
  4. Kortisol : kortisol sama fungsinya dengan glokagon, yaitu meningkatkan kadar glukosa darah

Hormon pertumbuhan dan insulin beerja secara berlawanan, apabila banyak insulin disekresikan, maka akan menyebabkan hormon pertumbuhan seperti glukagon dan epineprin kalah. Hal ini menyebabkan kadar gula dalam darah rendah dan akhirnya hipoglikemia.

Hipoglikemia ada 2 macam, yaitu :
  1. Hipoglikemia yang disebabkan karena terganggunya faktor fisiologi apabila hipohlikemia yang disebabkan karena faktor ini dan kemudia penderita pingsan, maka apabila ia dibiarkan begitu saja, penderita akan bangun dengan sendirinya. Mengapa demikian ?? karena pada saat pingsan, metabolisme seluruh tubuh akan terkurangi bebannya dengan istirahat (pingsan), maka mekanisme umpan balik negatif akan mengembalikan glukosa darah kembali seperti semula
  2. Hipoglikemia yang disebabkan karena faktor patologi apabila hipoglikemia yang disebabkan karena faktor patologi ini dibiarkan dan tidak ditangani dengan segera, maka akan dapat dipastikan bahwa penderita akan mengalami kematian.

Tanda dan ciri - ciri dari hipoglimekia  :
  1. Keringat dingin keringat dingin ini timbul juga karena adanya manifteasi dari syok, tapi belum sampai ke syok
  2. Lemas
  3. Takikardi (denyut nadi cepat)
  4. Cemas
  5. Lapar

Mekanisme Pengaturan Kadar gula darah
Apbila kadar gula dara naik, maka insulin akan disekresikan, setelah itu hepar akan terangsang dan menyebabkan terjadinya penyimpanan glukosa oleh sebagai glikogen di hati, apabila kelebihan itu masih ada juga maka akan disimpan dalam bentu lemak.

Begitu pula sebaiknya, apabila kadar gula dalam darah naik maka glukagon akan disekresikan, lalu tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik dengan meningkatkan kadar gula datah dengan pembongkaran glikogen, pembongkaran lemak (glikogenolisis) dan seluruh sel yang memerlukan glukosa dipaksa untuk menghemat pemakaian glukosa.

Selain itu, tanda - tanda dari hipoglikemia ini dibedakan menjadi 2 macam  :
1.  Neuroglikopenia  :  berhubungan langsung dengan saraf pusat
ciri - ciri  :
          a. bingung
          b. kejang
          c. keadaan paling fatal adalah kematia
2.  Neurogenik  : berhubungan langsung dengan saraf otonom
ciri - ciri  :
          a. lemah
          b. kesemutan
          c. tekanan sistol naik

Pada hipoglikemia ini untuk mencukupi kadar gila darah agar kembali ke normal, yaitu sekitar 70 - 100 mg/dl, maka apabila glukosa tidak mencukupi, tubuh akan merubah glikogen menjadi glukosa. Proses ini disebut glukoneogenesis (Pembentukan gkukosa dari bahan bukan karbohidrat). 

Setelah itu, apabila simpanan glikogen otot habis, maka tubuh akan menggunakan membongkar lemak. Proses ini terjadi di hati. Apabila pembongkaran ini terjadi dengan proses anaerob, asam laktat akan terbentuk secara otomatis. Penumpukan asam laktat yang berlebihan, maka akan menyebabkan tubuh menjadi asam, hal ini bisa menyebabkan terjadinya ketoasidosis. 

Ketoasidosis yang berkelanjutan maka akan berakhir dengan syok, dan akhirnya koma, lalu terjadilah kematian. Setelah semua lemak terbongkar, dan itu tidak cukup untuk menyediakan glukosa bagi tubuh, maka yang selanjutnya terjadi adalah pembongkaran protein.

Treatmen
Apabila terjadi hipoglikemia, maka hal - hal yang harus dilakukan adalah  :
1.  Apabila kondisi pasien dalam keadaan sadar dan bisa menelan, :
-  berikanlah glukosa
-  berikan permen (yang manis)
-  berikan jus buah (jeruk)
-  teh manis
2.  Apabila pasien dalam keadaan tidak sadar  :
-  pemberian glukagon melaui intravena
-  pemberian cairan detrosa secara intravena
-  operasi tumor apabila memang ada tumor penghasil insulin di tubuh pasien


Sedikit soal  :
1.  Hormon yang berperan dalam penyerapan glukosa darah : insulin
2.  Yang termasuk disakarida  :  sukrosa
3.  Ciri dari hipoglikemia  :  keluar keringat dingin dan lemas
4.  Pada saat puasa, hormon simpanan yang diubah adalah : alanin
5.  Glukoneogenesis  :  pembentukan glukosa dari glikogen
6.  Efek samping glikolisis anaerob  :  asam laktat
7.  Apabila pingsan terjadi, karena  :  kurangnya pasokan oksigen ke otak
8.  Apabila kadar glukosa darah rendah  : glukoneogenensis gagal

Demikian artikel tentang Hipolikemia atau penyakit gula darah rendah  semoga bisa bermanfaat dan bisa jadi bahan pembelajaran buat sobat semua.
Selengkapnya

Jumat, 29 November 2013

Penyebab dan Cara Pengobatan Cacing Clonorchis sinensis

Informasikita- Hello soabat semua, kembali lagi saya memposting materi ilmu Kesehatan yang berkenaan dengan masalah cacing Clonorchis sinensis yang sangat berbahaya untuk kesehatan manusia dan hewan pada umumnya,, ok langsung saja ya.......
 
●    Nama Latin     : Opisthorchis sinensis (Clonorchis sinensis)
●    Phylum          : Platyhelminthes
●    Sub Phylum    : -
●    Kelas            : Trematoda
●    Ordo             : Digenea
●    Family           : Opisthorchidae
●    Genus           : Clonorchis
●    Species         : Opisthorchis sinensis (Clonorchis sinensis)
●    Nama Daerah  : Cacing pipih
 
 
A. Cara penyebaran
        Terdapat di orient, tetapi tidak terdapat di Western Hemisphere. Reservoir/sumber     Siput merupakan pejamu perantara yang pertama. Sekitar 40 spesies ikan sungai    berperan sebagai pejamu perantara sekunder. Manusia, anjing, kucing dan banyak     spesies mamalia pemakan-ikan yang lain merupakan pejamu akhir.

B. Reproduksi

        Organ reproduksi trematoda komplex dan daur hidup biasanya melibatkan beberapa     tuan rumah yang berbeda, yang berakibat dalam penambahan kekuatan dari reproduksi.     Reproduksi dari sebagian besar keturunan diperlukan dalam hewan parasit kerena     kesempatan suatu individual akan mencapai tuan rumah baru agak enteng. Sebagian     besar trematoda hermaphrodit. Telur dari satu cacing mungkin dibuahi oleh spermatozoa     dari cacing yang sama, dengan fertilisasi silang dapat terjadi. Larva yang ditetaskan dari     telur trematoda ectoparasitic adalah berupa cilia dan berenang kira-kira sampai mereka     melekatkan diri ke tuan rumah yang baru. Trematoda endoparasitic biasanya terlewati     melalui daur hidup terkomplikasi seperti pada cacing hati.

C. Klonorkiasis
        Opisthorchis sinensis (Clonorchis sinensis) adalah cacing hati pada manusia, dan juga     terdapat pada kucing dan anjing, sebagai tuan rumah yang berfungsi seperti gudang. Hal     ini dipilih seperti contoh tipe untuk trematoda karena struktur kurang spesial dari pada     Fasciola hepatica, cacing pipih pada hati sapi . O. sinensis dewasa hidup di pembuluh    empedu pada manusia dan menyebabkan infeksi yang dapat menyebabkan kematian.

        Klonorkiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing Clonorchis sinensis yang     juga dikenal dengan nama cacing hati oriental atau Cina merupakan Agens etiologi     Cacing/Helminthes (trematoda/cacing pipih): Karakteristik agens Clonorchis sinensis     adalah pada cacing dewasa hidup di saluran empedu, kadang-kadang juga ditemukan di     saluran pancreas. Ukuran cacing dewasa 10 - 25 mm x 3 - 5 mm, bentuknya pipih,     lonjong, menyerupai daun. Telur berukuran kira-kira 30 – 16 mikron, bentuknya seperti     bola lampu pijar dan berisi mirasidium, ditemukan dalam saluran empedu.. Warnanya     kuning kecokelatan yang mungkin disebabkan oleh warna empedu dan memiliki sebuah     organ pengisap oral dan sebuah pengisap ventral. Cacing ini bersifat hermafrodit. Telurnya     berukuran 20―30 μm x 15―17 μm; telur tersebut memiliki operkulum dan ukurannya     paling kecil di antara telur trematoda lain yang hidup dalam tubuh manusia.
        Gejala penderita cacing hati Clonorchis sinensi tidak nyata, kebanyakan terjadi secara     kronis, setelah terinfeksi baru perlahan lahan muncul gejala seperti hilang selera makan,     lemas, kurang enak di bagian atas perut, diare, kembung, pencernaan kurang baik, sakit di     bagian atas kanan perut dan hati membengkak. Bila jumlah parasit sangat banyak akan     menyumbat saluran empedu, radang empedu, atau penyakit kuning. Juga ada yang     terinfeksi lama sehingga berubah 3 menjadi batu empedu, bahkan hati mengeras     hepatis kanker.

D. Mata rantai infeksi
        Cara penularan dan Manusia terinfeksi karena memakan ikan air-tawar contoh     makanan yang mentah atau kurang matang yang mengandung terlibat dalam KLB larva     berbentuk kista (metaserkaria). Pada saat dicerna, larva cacing akan terbebas dari dalam     kista dan bermigrasi melalui duktus koledokus ke dalam percabangan empedu. Telur yang     terletak dalam saluran empedu diekskresikan ke dalam tinja. Telur dalam tinja     mengandung mirasidium yang sudah berkembang lengkap. Kalau telur ini dimakan oleh     siput yang rentan, telur akan menetas dalam usus siput, menembus jaringan tubuhnya dan     secara aseksual menghasilkan larva (serkaria) yang bermigrasi ke dalam air. Jika     mengenai pejamu perantara yang kedua, serkaria akan menembus tubuh pejamu dan     membentuk kista, biasanya dalam otot dan terkadang di bawah sisik. Siklus hidup cacing     klonorkis yang lengkap mulai dari siput, ikan sampai manusia memerlukan waktu     sedikitnya 3 bulan.
        Ikan yang mengandung metaserkaria akan termakan oleh manusia jika ikan tersebut     tidak dimasak dengan matang. Metaserkaria dalam bentuk kista masuk ke dalam sistem     pencernaan, kemudian berpindah ke hati melalui saluran empedu dan tumbuh menjadi     cacing dewasa.
        Masa inkubasi Tidak bisa diperkirakan; masa inkubasi bervariasi menurut jumlah     cacing yang ada. Gejala dimulai dengan masuknya cacing yang imatur ke dalam sistem     empedu dalam waktu satu bulan sesudah larva yang berbentuk kista (metaserkaria)     termakan oleh pasien. Gejala Gejala gangguan rasa nyaman pada abdomen kuadran     kanan atas dengan awitan yang bertahap, anoreksia, gangguan pencernaan, nyeri atau     distensi abdomen dan buang air besar yang tidak teratur.
        Pasien yang menderita infeksi berat akan mengalami perasaan lemah, penurunan     berat badan, gangguan rasa nyaman di daerah epigastrium, perasaan penuh dalam     abdomen, diare, anemia dan edema. Dalam stadium lanjut akan terjadi ikterus, hipertensi     porta, ascites dan perdarahan gastrointestinal atas.
        Gejala sisa Hati (terutama lobus kiri) akan membesar. Limpa dapat teraba hanya pada     sebagian kecil kasus klonorkiasis. Kolangitis piogenik yang rekuren merupakan komplikasi     serius klonorkiasis. Pankreas dapat turut terkena pada kasus infeksi C. sinensis yang     berat. Patologi klonorkiasis pankreas serupa dengan patologi pada lesi hepar, yaitu     terjadinya hiperplasia adenomatosa epitelium duktus. Kalau terjadi pankreatitis akut,     gambaran inflamasi akan terlihat. Kolangiokarsinoma juga berkaitan dengan klonorkiasis.     Infeksi berat yang berulang-ulang selama usia kanak-kanak pernah dilaporkan    menyebabkan dwarfisme disertai retardasi perkembangan seksual.

E. Pengobatan
  • Cara Diagnosis : Melalui mikroskop memeriksa sample tinja apakah ada telur cacing parasit, okista protozoa dan takizoit.
     Klonoisiasis oleh Clonorchis sinensis dewasa, diketemukan dalam tinja penderita, dapat I    nfasi dalam saluran empedu, sehingga penderita menerita sakit dihatinya disertai ikterus.     Bentuk dewasa dan telurnya dapat di ketemukan dalam tinja.

    Catatan : Cara pengobatan pelbagai penyakit parasit usus berbeda, harus
    memakai obat cacing menurut resep dokter.
F. Pencegahan Penyakit Klonorkiasis
        Pencegahan penularan cacing chlonorsis sinensis pada manusia dapat dilakukan     dengan cara memutus rantai hidup cacing ini, meliputi :

1.    Tindakan pengendalian Industri: pembuangan ekskreta dan air limbah/khusus kotor yang aman untuk mencegah kontaminasi pada air sungai; pengolahan air limbah untuk keperluan akuakultur; iradiasi ikan air tawar; pembekuan dingin; perlakuan panas, misalnya pengalengan.
2.    Tempat pengelolaan makanan/rumah tangga: memasak ikan air tawar sampai benar-benar matang. Konsumen harus menghindari konsumsi ikan air tawar yang mentah atau kurang matang.
Lain-lain: pengendalian siput dengan moluskisida jika memungkinkan; pengobatan pada masyarakat yang terinfeksi untuk mengurangi reservoir infeksi; pemberantasan anjing dan kucing liar.

G. Peran Keluarga dalam Usaha Pencegahan Penyakit Klonorsiasis
        Keluarga adaah sebagai sumber utama pola perilaku sehat. Peran keluarga dalam     berbagai perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, seperti aktivitas fisik, pola-pola     nutrisi, dan penggunaan substansi, dimana masing-masing perilaku tersebut memiliki     hubungan yang kuat dengan perkembangan dan pemeliharaan penyakit. Perilaku sehat     diperoleh dengan membentuk suatu sistem sosial dimana masing-masing anggota     keluarga membentuk suatu ikatan bersama, mencapai suatu tujuan (keadaan tubuh yang     sehat), dan mengelola keseimbangan (mempertahankan kondisi yang sehat).

        Peran keluarga adalah sebagai motivator, educator dan fasilitator. Berbagai usaha     harus dilakukan oleh keluarga untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit     klonorkiasis. Hal ini juga menunjukkan bahwa keluarga harus aktif dalam usaha     mengetahui lebih banyak dan sebisa mungkin menghindari faktor-faktor yang dapat     menyebabkan penyakit klonorkiasis ini. Misalnya saja seorang ibu yang kebanyakan diberi     tanggung jawab untuk memasak, jangan sampai memasak ikan dengan tidak sempurna     atau tidak matang.

        Terkait dengan peran keluarga ini, orang tua dapat membantu membangkitkan     kesadaran anaknya melalui pemberian penjelasan kepada anaknya mengenai berbagai     hal yang tepat mengenai penyakit ini bila orang tua mengetahui. Usaha untuk memberikan     pengetahuan ini juga dapat memancing orang tua untuk mencari tahu lebih banyak lagi     agar mereka dapat memberikan informasi yang memadai dan tepat kepada anak.     Misalnya memantau dan membimbing anak atau anggota keluarga lain agar ketika     membeli makanan di luar, misalnya ikan, haruslah berhati-hati pastikan ikan benar-benar     telah dimasak sempurna atau matang. Jadi peran keluarga dalam menghindari penyakit ini     merupakan suatu bagian yang cukup penting.

H. Pencegahan 
1.    Tidak makan makanan mentah (sayuran,daging babi, daging sapi dan daging ikan), buah dan melon dikonsumsi setelah dicuci bersih dengan air.
Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman.
Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan menjelang makan atau sesudah buang air besar.
      Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak mencemari sumber air.
Di Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar harus secara rutin diadakan pemeriksaan parasit, sedini mungkin menemukan anak yang terinfeksi parasit dan mengobatinya dengan obat cacing.
Bila muncul serupa gejala infeksi parasit usus, segera periksa dan berobat ke rumah sakit .

2.    Meski kebanyakan penderita parasit usus ringan tidak ada gejala sama sekali, tetapi mereka tetap bisa menularkannya kepada orang lain, dan telur cacing akan secara sporadik keluar dari tubuh bersama tinja, hanya diperiksa sekali mungkin tidak ketahuan, maka sebaiknya secara teratur memeriksa dan mengobatinya.

Demikianlah Artikel Penyebab dan Cara Pengobatan Cacing Clonorchis sinensis, betapa berbahayanya penyebaran cacing ini terhadap pertumbuah tulang kita. baca juaga artikel Cara Menguji Protein Didalam Urine.
Selengkapnya

Rabu, 27 November 2013

Kalibrasi Alat Ukur Volume Prinsip Percobaan

Informasikita Kalibrasi merupakan proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat ukur sesuai dengan rancangannya.  (Rouessac 2007) Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang terhubung dengan standar nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.(Morris 2001) Alat ukur volume merupakan bagian dari perangkat peralatan yang digunakan dalam praktikum kimia analitik.


            Alat ukur volume yang dikalibrasi dalam percobaan ini meliputi buret, pipet mohr, pipet volumetrik, dan labu takar. Buret merupakan alat ukur volume yang bisa memindahkan beberapa volume sampai kapasitas maksimumnya. Pipet merupakan alat ukur volume yang bisa memindahkan suatu volume dari suatu wadah ke wadah lainnya. Pipet dibedakan menjadi pipet volumetrik dan pipet serologis. Pipet volumetrik hanya bisa memindahkan suatu volumeyang tetap, sedangkan pipet serologis atau pipet Mohr merupakan pipet yang bia memindahkan berbagai volume sampai kapasitas maksimumnya. Labu takar merupakan alat ukur volume yang mengandung sejumlah volume cairan yang diisi sampai tanda tera.(Patnaik 2004)

        Kalibrasi alat ukur volume dilakukan untuk menyesuaikan keluaran atau indikasi dari suatu perangkat pengukuran volume agar sesuai dengan besaran dari standar yang digunakan dalam akurasi tertentu.(Pyzdek 2003) Prinsip kalibrasi alat ukur volume dilakukan dengan mengukur bobot suatu volume air destilata yang dikeluarkan oleh alat ukur volume. Bobot ini kemudian dibandingkan dengan bobot jenis air pada suhu pengukuran volume tersebut dilakukan, sehingga dapat ditentukan nilai ketepatannya.


Tujuan Percobaan
Percobaan ini bertujuan melakukan kalibrasi terhadap alat ukur volume.



Alat dan Bahan
Alat-alat yang dipakai adalah labu erlenmeyer, pipet Mohr 10 ml, 25 ml, pipet volumetrik 10 ml, 25 ml, buret 50 ml, neraca analitik, dan labu takar 50 ml. Bahan yang dipakai adalah air suling.



Prosedur Percobaan
Kalibrasi Buret
Buret diisi dengan air destilata sampai meniskusnya mencapai 0,00. Erlenmeyer kosong yang telah bersih dan kering ditimbang dengan tutupnya. 10,00 ml air dari buret dikeluarkan dan ditampung dalam erlenmeyer yang telah ditimbang, tutup kemudian timbang kembali. Tahapan tersebut diulang dengan jumlah air 0-20, 0-30, 0-40, 0-50 ml. Untuk tiap data, volume untuk 1 gram air pada berbagai suhu diperhitungkan. Percobaan dilakukan secara triplo.

Kalibrasi Pipet Mohr
Pipet Mohr diisi dengan air destilata sampai meniskusnya mencapai 0,00. Erlenmeyer kosong yang telah bersih dan kering ditimbang dengan tutupnya. 5,00 ml air dari pipet Mohr dikeluarkan dan ditampung dalam erlenmeyer yang telah ditimbang, kemudian timbang kembali. Tahapan tersebut diulang dengan jumlah air 0-10, 0-15, 0-20, 0-25 ml. Untuk tiap data, volume untuk 1 gram air pada berbagai suhu diperhitungkan. Percobaan dilakukan secara triplo.

Kalibrasi Pipet Volumetrik
Pipet Volumetrik diisi dengan air destilata sampai meniskusnya mencapai 0,00. Erlenmeyer kosong yang telah bersih dan kering ditimbang dengan tutupnya. 10,00 ml air dari pipet volumetrik dikeluarkan dan ditampung dalam erlenmeyer yang telah ditimbang, kemudian timbang kembali. Tahapan tersebut diulang pada pipet volumetrik lain dengan jumlah air 25 ml. Untuk tiap data, volume untuk 1 gram air pada berbagai suhu diperhitungkan. Percobaan dilakukan secara triplo.
Kalibrasi Labu Takar
Labu takar dibersihkan dan dikeringkan (30 menit, 100°C). Labu takar dikeluarkan dari oven, didiamkan sebentar di luar, dimasukkan ke dalam eksikator. Labu takar ditimbang dengan tepat. Labu takar diisi dengan air destilata sampai tanda tera, kemudian ditimbang. Untuk tiap data, volume untuk 1 gram air pada berbagai suhu diperhitungkan. Percobaan dilakukan secara triplo.

Data Hasil Pengamatan
A. Kalibrasi Buret
Volume
ml Ulangan Massa Awal
gram Massa Akhir
gram Δ m
gram Volume sebenarnya
ml Volume yang dikeluarkan
ml Ketepatan
%
0-10 1 54,4257 62,3610 7,9353 7,9694 7,9353 99,5721
2 56,6038 66,5716 9,9678 10,0107 9,9678 99,5715
3 53,9133 63,8559 9,9426 9,9853 9,9426 99,5724
0-20 1 52,5748 72,4540 19,8792 19,9647 19,8792 99,5717
2 56,7768 76,5486 19,7718 19,8568 19,7718 99,5719
3 54,0195 73,8371 19,8176 19,9028 19,8176 99,5719
0-30 1 52,4673 82,2964 29,8291 29,9573 29,8291 99,5721
2 56,8062 86,5527 29,7465 29,8744 29,7465 99,5719
3 57,9695 83,7651 25,7956 25,9065 25,7956 99,5719
0-40 1 58,0937 97,5707 39,4770 39,6467 39,4770 99,5719
2 38,2558 77,8228 39,5670 39,7371 39,5670 99,5719
3 57,7636 98,3362 40,5726 40,7471 40,5726 99,5717
0-50 1 58,1298 107,5588 49,4290 49,6415 49,4290 99,5719
2 38,3348 87,7112 49,3764 49,5887 49,3764 99,5721
3 57,7888 107,1983 49,4095 49,6219 49,4095 99,5715
Contoh Perhitungan Δm (Ambil data volume 0-30 ml ulangan ke-2) :
Δm = Massa akhir – Massa awal
= 86,5527 gram – 56,8062 gram
= 29,7465 gram
Contoh Perhitungan Volume Sebenarnya (Ambil data volume 0-50 ml ulangan ke-3) :
Diketahui volume 1 gram air pada suhu 27°C = 1,0043 ml
Maka ρ air pada suhu 27°C = (massa air pada suhu 27°C)/(volume air pada suhu 27°C)
= (1 gram)/(1,0043 ml) = 0,9957 gram/ ml
Volume sebenarnya = Δm/(ρ air pada suhu 27°C)
= (49,4095 gram)/(0,9957 gram/ ml)
= 49,6219 ml
Contoh Perhitungan Volume yang Dikeluarkan (Ambil data volume 0-40 ml ulangan ke-1) :
Diketahui ρ air pada kondisi standar = 1 gram/ ml
Volume yang Dikeluarkan = Δm/ρ
= (39,4770 gram)/(1 gram/ ml) = 39,4770 ml
Contoh Perhitungan Ketepatan (Ambil data volume 0-50 ml ulangan ke-2) :
Ketepatan = [1-((Volume sebenarnya-Volume yang dikeluarkan)/(Volume sebenarnya)) ]×100%
= [1-((49,5887-49,3764)/49,5887) ]×100%
= [1-0,0043]×100%
= 99,5721 %

Kalibrasi Pipet Mohr
Volume
ml Ulangan Massa Awal
gram Massa Akhir
gram Δm
gram Volume sebenarnya
ml Volume yang dikeluarkan
ml Ketepatan
%
0-5 1 35,9089 40,9040 4,9951 5,0166 4,9951 99,5714
2 34,7831 39,7680 4,9849 5,0063 4,9849 99,5725
3 32,6056 37,6055 4,9999 5,0214 4,9999 99,5718
0-10 1 38,1897 48,1782 9,9885 10,0314 9,9885 99,5723
2 43,5246 53,4956 9,9710 10,0139 9,9710 99,5716
3 46,8021 56,7665 9,9644 10,0072 9,9644 99,5723
0-25 1 38,2851 63,1920 24,9069 25,0140 24,9069 99,5718
2 43,4220 68,2570 24,8350 24,9418 24,8350 99,5718
3 46,8287 71,6451 24,8164 24,9231 24,8164 99,5719
Contoh Perhitungan Δm (Ambil data volume 0-10 ml ulangan ke-1) :
Δm = Massa akhir – Massa awal
= 48,1782 gram – 38,1897 gram
= 9,9885 gram
Contoh Perhitungan Volume Sebenarnya (Ambil data volume 0-25 ml ulangan ke-3) :
Diketahui volume 1 gram air pada suhu 27°C = 1,0043 ml
Maka ρ air pada suhu 27°C = (massa air pada suhu 27°C)/(volume air pada suhu 27°C)
= (1 gram)/(1,0043 ml) = 0,9957 gram/ ml
Volume sebenarnya = Δm/(ρ air pada suhu 27°C)
= (24,8164 gram)/(0,9557 gram/ ml)
= 24,9231 ml
Contoh Perhitungan Volume yang Dikeluarkan (Ambil data volume 0-10 ml ulangan ke-1) :
Diketahui ρ air pada kondisi standar = 1 gram/ ml
Volume yang Dikeluarkan = Δm/ρ
= (9,9885 gram)/(1 gram/ ml) = 9,9885 ml
Contoh Perhitungan Ketepatan (Ambil data volume 0-25 ml ulangan ke-2) :
Ketepatan = [1-((Volume sebenarnya-Volume yang dikeluarkan)/(Volume sebenarnya)) ]×100%
= [1-((24,9418-24,8350)/24,9418) ]×100%
= [1-0,0043]×100%
= 99,5718 %

Kalibrasi Pipet Volumetrik
Volume
ml Ulangan Massa Awal
gram Massa Akhir
gram Δm
gram Volume sebenarnya
ml Volume yang dikeluarkan
ml Ketepatan
%
0-5 1 46,7482 51,7402 4,9920 5,0135 4,9920 99,5712
2 46,7735 51,7322 4,9587 4,9800 4,9587 99,5723
3 43,5884 48,5489 4,9605 4,9818 4,9605 99,5724
0-10 1 35,8054 45,7825 9,9771 10,0200 9,9771 99,5718
2 34,7048 44,6818 9,9770 10,0199 9,9770 99,5718
3 32,4680 42,4226 9,9546 9,9974 9,9546 99,5719
0-25 1 35,9824 60,9600 24,9776 25,0850 24,9776 99,5718
2 34,8480 59,9051 25,0571 25,1648 25,0571 99,5720
3 32,6838 57,7455 25,0617 25,1695 25,0617 99,5717
Contoh Perhitungan Δm (Ambil data volume 5 ml ulangan ke-3) :
Δm = Massa akhir – Massa awal
= 48,5489 gram – 43,5884 gram
= 4,9605 gram
Contoh Perhitungan Volume Sebenarnya (Ambil data volume 0-25 ml ulangan ke-3) :
Diketahui volume 1 gram air pada suhu 27°C = 1,0043 ml
Maka ρ air pada suhu 27°C = (massa air pada suhu 27°C)/(volume air pada suhu 27°C)
= (1 gram)/(1,0043 ml) = 0,9957 gram/ ml
Volume sebenarnya = Δm/(ρ air pada suhu 27°C)
= (25,0617 gram)/(0,9557 gram/ ml)
= 25,1695 ml
Contoh Perhitungan Volume yang Dikeluarkan (Ambil data volume 0-25 ml ulangan ke-1) :
Diketahui ρ air pada kondisi standar = 1 gram/ ml
Volume yang Dikeluarkan = Δm/ρ
= (24,9776 gram)/(1 gram/ ml) = 24,9776 ml
Contoh Perhitungan Ketepatan (Ambil data volume 0-25 ml ulangan ke-2) :
Ketepatan = [1-((Volume sebenarnya-Volume yang dikeluarkan)/(Volume sebenarnya)) ]×100%
= [1-((25,1648-25,0571)/25,1648) ]×100%
= [1-0,0043]×100%
= 99,5720 %


Kalibrasi Labu Takar
Volume
ml Ulangan Massa Awal
gram Massa Akhir
gram Δm
gram Volume sebenarnya
ml Volume yang dikeluarkan
ml Ketepatan
%
0-10 1 12,7327 22,6523 9,9196 9,9622 9,9196 99,5724
2 12,2019 22,2952 10,0933 10,1367 10,0933 99,5719
3 12,2021 22,3782 10,1761 10,2198 10,1761 99,5724
0-25 1 23,3163 47,7549 24,4386 24,5437 24,4386 99,5718
2 23,7417 47,5680 23,8263 23,9287 23,8263 99,5721
3 23,7416 47,6163 23,8747 23,9774 23,8747 99,5717
0-50 1 35,6371 84,9376 49,3005 49,5125 49,3005 99,5718
2 35,1290 84,6965 49,5675 49,7806 49,5675 99,5719
3 35,6372 84,8387 49,2015 49,4131 49,2015 99,5718
0-100 1 59,4087 158,2758 98,8671 99,2922 98,8671 99,5719
2 60,7366 159,4295 98,6929 99,1173 98,6929 99,5718
3 59,4090 158,3048 98,8958 99,3210 98,8958 99,5719
Contoh Perhitungan Δm (Ambil data volume 0-50 ml ulangan ke-1) :
Δm = Massa akhir – Massa awal
= 84,9376 gram – 35,6371 gram
= 49,3005 gram
Contoh Perhitungan Volume Sebenarnya (Ambil data volume 0-100 ml ulangan ke-3) :
Diketahui volume 1 gram air pada suhu 27°C = 1,0043 ml
Maka ρ air pada suhu 27°C = (massa air pada suhu 27°C)/(volume air pada suhu 27°C)
= (1 gram)/(1,0043 ml) = 0,9957 gram/ ml
Volume sebenarnya = Δm/(ρ air pada suhu 27°C)
= (98,8958 gram)/(0,9557 gram/ ml)
= 99,3210 ml
Contoh Perhitungan Volume yang Dikeluarkan (Ambil data volume 0-100 ml ulangan ke-1) :
Diketahui ρ air pada kondisi standar = 1 gram/ ml
Volume yang Dikeluarkan = Δm/ρ
= (98,8671 gram)/(1 gram/ ml) = 98,8671 ml
Contoh Perhitungan Ketepatan (Ambil data volume 0-100 ml ulangan ke-2) :
Ketepatan = [1-((Volume sebenarnya-Volume yang dikeluarkan)/(Volume sebenarnya)) ]×100%
= [1-((99,1173-98,6929)/99,1173) ]×100%
= [1-0,0043]×100%
= 99,5718 %
Pembahasan
Pada percobaan ini dilakukan kalibrasi terhadap alat ukur volumetrik, meliputi kalibrasi buret, kalibrasi pipet Mohr, kalibrasi pipet volumetrik, dan kalibrasi labu takar. Percobaan diawali dengan menimbang erlenmeyer. Kemudian, percobaan berlanjut dengan mengeluarkan suatu volume air destilata dari alat ukur volumetrik tersebut pada suatu erlenmeyer. Selanjutnya erlenmeyer dan air destilata tersebut ditimbang. Dengan membandingkan massa jenis air destilata pada suhu 27°C, didapatkan volume yang sebenarnya dari air destilata yang dikeluarkan oleh alat ukur volumetrik tersebut. Volume yang dikeluarkan didapat dari hasil pembagian massa air destilata dengan massa jenis air pada kondisi setimbang, yaitu 1 gram/ ml.
Seluruh percobaan kalibrasi menghasilkan ketepatan di atas 99,57%. Hal ini berarti alat ukur volumetrik telah berhasil dikalibrasi. Namun, masih terdapat kesalahan dalam pelaksanaan kalibrasi, antara lain kesalahan paralaks pembacaan meniskus buret dan pipet serta pembacaan tanda tera labu takar, kesalahan kalibrasi timbangan, dan penetapan suhu percobaan yang tidak sesuai dengan kondisi faktual.
Kesimpulan
Alat ukur volume yang biasa digunakan dalam percobaan kimia analitik, seperti buret, pipet, dan labu takar telah berhasil dikalibrasi. Hasil kalibrasi ini menghasilkan ketepatan lebih dari 99,57%.


Selengkapnya

Sabtu, 06 Oktober 2012

Cara Pemeriksaan Rumple Leed tes

http://teknologi-profesional.blogspot.com/
InformasiKita- Rumple leed test adalah salah satu cara yang paling mudah dan cepat untuk menentukan apakah terkena demam berdarah atau tidak. Rumple leed adalah pemeriksaan bidang hematologi  dengan  melakukan pembendungan pada bagian lengan atas selama 10 menit untuk uji diagnostik kerapuhan vaskuler dan fungsi trombosit. Prosedur pemeriksaan Rumple leed tes yaitu :


1. Pasang ikatan sfigmomanometer pada lengan atas dan pump sampai tekanan 100 mmHg (jika tekanan sistolik pesakit < 100 mmHg, pump sampai tekanan ditengah-tengah nilai sistolik dan diastolik).

2.  Biarkan tekanan itu selama 10 minit (jika test ini dilakukan sebagai lanjutan dari test IVY, 5 minit sudah mencukupi).
3.  Lepas ikatan dan tunggu sampai tanda-tanda statis darah hilang kembali. Statis darah telah berhenti jika warna kulit pada lengan yang telah diberi tekanan tadi kembali lagi seperti warna kulit sebelum diikat atau menyerupai warna kulit pada lengan yang satu lagi (yang tidak diikat).
4.  Cari dan hitung jumlah petechiae yang timbul dalam lingkaran bergaris tengah 5 cm kira-kira 4 cm distal dari fossa cubiti.
Catatan:

Jika ada > 10 petechiae dalam lingkaran bergaris tengah 5 cm kira-kira 4 cm distal dari fossa cubiti test Rumple Leede dikatakan positif. Seandainya dalam lingkaran tersebut tidak ada petechiae, tetapi terdapat petechiae pada distal yang lebih jauh daripada itu, test Rumple Leede juga dikatakan positif  . Semoga Bermanfaat.
Selengkapnya

Rabu, 03 Oktober 2012

Pengenalan Dan Penerapan Peralatan Analisis




Dasar Teori
           Menggunakan alat dengan betul merupakan syarat untuk memperoleh hasil-hasil yang betul pada analisis kuantitatif . Cara penggunaan yang benar ini ditanamkan pada diri dari permulaan, bagi percobaan-percobaan selanjutnya.
Dalam praktikum ini kita akan belajar mengenal dan menggunakan alat:

1.Pipet
2. Labu takar
3. Buret

Praktikum melatih kita untuk:
1. memilih alat yang benar bagi tujuan tertentu
2. memeriksa alatnya apa bekerja dengan baik
3. membersihkan alatnya
4. mempersiapkan alatnya untuk reagen tertentu
5. menggunakan alatnya.

Alat dan Bahan
A. Alat:
- labu takar 250 mL : 2 buah
- Erlenmeyer 250 mL : 2 buah
- Gelas piala 250 mL : 2 buah
- Batang pengaduk : 1 buah
- Pipet 25 mL : 1 buah
- Pipet 20 mL : 1 buah
- Sikat tabung : 1 buah
- Botol semprot : 1 Buah
- Corong biasa : 1 buah
- Etiket-etiket
- Kertas saring
- Kertas atau lap
- Standar dan buret
B. Bahan:
- Larutan detergen
- 250 mL reagen A
- 100 mL HCl 0,1 N
- 100 mL NaOH 0,1 N

 Prosedur Kerja
            Sebelum kita mengenal alat serta tehnik penggunaan alat, maka alat-alat yang akan kita pakai terlebih dahulu dibersihkan. Membersihkan alat-alat yang kan dipakai itu adalah untuk mengukur volume larutan dengan tepat. Larutan sama sekali tidak boleh dikotorkan dengan zat yang berasal dari alat yang kurang bersih.
Tehnik membersihkan alat sebagai berikut:'

1. Cuci alat yang digunakan dengan air kran dingin sampai bersih
2. Bilas alat sekali lagi dengan menggunakan air suling. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan zat-zat yang terlarut dalam air kran
3. Periksa apakah pada dinding alat tersebut masih menempel tetesan-tetesan air. Bila ada maka:

a. Cuci alat dengan menggunakan larutan detergen dengan air kran dingin
b. Hilangkan dtergen dengan air kran dingin
c. Hilangkan air kran dengan menggunkan air suling.

Catatan:
- Adanya tetesan air pada dinding alat/tabung menunjukkan adanya lemak pada tempat sabun tersebut.
- Jangan sekali-kali mencuci alat dengan air panas ataupun mengeringkannya dengan tanur pengering yang panas. Hal ini akan mengembangkan alat volumetrinya sehingga volume bertambah.
Setelah alat-alat tersebut selesai dicuci dan dikeringkan maka alat-alat itu siap untuk dipakai.

Yang harus dilakukan dalam praktikum ini adalah:
a. Bagaimana menentukan batas garis kalibrasi ?
b. Gambarkan bentuk-bentuk alat, cara penggunaan serta tujuan digunakan alat tersebut, meliputi:
a. Pipet
b. Buret
c. Labu takar

Alat-alat kimia lainnya ,seperti:
- Gelas kimia
- Tabung reaksi
- Kaki tiga dan kasa asbes
- Corong gelas
- Labu erlenmeyer
- Pinggan porselin
- Pipet tetes
- Kaca arloji
- Gelas piala

Pembahasan dan Hasil Pengamatan
A. Cara Penentuan Garis Kalibrasi
Garis batas adalag garis yang teratur pada leher labu takar yang menunjukkan batas permukaan cairan untuk mendapatkan volume cairan tertentu. Untuk mendapatkan pengukuran cermat, dasar maniskus cairan harus menyentuh batas garis ini bila dikaca pada ketinggian mata.
Pipet dibuat dengan perhitungan: Volume yang dimaksud tercapai bila dasar maniskus cairan tepat menyentuh garis batas.
Labu takar dibuat dengan perhitungan volume: volume yang dimaksud tercapai bila dasar maniskus cairan tepat menyentuh garis batas.

B. Penggunaan Pipet
- Pada waktu menyedot larutan dari gelas piala, ibu jari menekan tanda S pada pipet. Keluarkan pipet dari gelas piala. Pegang pipet tegak lurus di atas gelas piala untuk mengembalikan kelebihan larutan dalam pipet gelas piala. Dengan memutar pipetnya, biarkan larutannya perlahan-lahan menetets keluar sampai maniskusnya, dipandang pada ketinggian mata kita tepat menyentuh garis batas kalibrasi.
- Pindahkan pipet ke dalam labu titrasi (erlenmeyer) dengan ujung menyentuh labu titrasi yang dimiringkan. Tekan tanda E pada pipet dengan ibu jari, biarkan cairan keluar. Bila cairan sudah mencapai ujung lancip, lalu tunggu sampai 15 detik.

C. Penggunaan Buret
- Tuangkan larutan melalui corong ke dalam buret. Buka kran sebentar untuk mengisi lubang ujung lancip dan menghilangkan gelembung-gelembung udarayang mungkin ada di dalamnya. Ketok perlahan-lahan ujung lancip untuk menghilangkan gelembung-gelembung udara yang mungkin ada. Turunkan maniskus sampai garis yang terdekat.
- Lepaskan tetesan pada ujung lancip dengan menyentuh pada dinding gelas piala. Tangan kiri memegang kran dan tangan kanan memegang botol titrasi sambil menggoyang-goyangkannya.

D. Penggunaan Labu Takar
- Masukkan zat yang akan diencerkan ke dalam labu takar. Gunakan batang pengaduk yanmg bersih, untuk menuangkan air suling ke dalam labu, isi sampai tubuh labu penuh.
- Gunakan sekarang pipet tetes atau botol semprot
- Untuk menambahkan air suling setetes demi setetes sampai maniskus larutan tepat menyentuh garis, bila dipandang pada ketinggian mata.

E. Alat-alat Kimia
1. Gelas kimia untuk mengukur volume zat cair
2. Tabung reaksi , untuk malekukan percobaan reaksi kimia dalam bentuk larutan.
3. Kaki tiga sebagai tungku
4. Kasa asbes digunkan sebagai alas pada pemanasan alat-alat gelas.
5. Corong gelas digunkan sebagai corong jika memindahkan cairan yang cukup banyak
6. Labu erlenmeyer untuk menampung hasil penyulingan, memanaskan cairan dan lain-lain
7. Pinggan porselin untuk menguapkan larutan atau mengeringkan zat padat yang bas.
8. Pipet tetes untuk memindahkan beberapa tetes zat cair.
9. Bahan kegiatan praktikum atau bahan-bahan yang perlu diamati
10. Gelas kimia untuk wadah zat cair, membuat larutan-larutan.
Selengkapnya
 
Twitter Facebook Feedburner Google +1 youtube flickr
© Copyright 2012 Informasi Teknologi, Sejarah, Alam Wisata, Kesehatan Template Modify by INFORMASI KITA | Powered by Blogger.com.